Rabu, 07 Januari 2009

Hari Ulang Tahun Majalengka sebagai Pesta Perubahan


Oleh Niknik M. Kuntarto, S.Pd., M.Hum.


”Majalengka??”
”Majalengka itu daerah mana ya, Bu Niknik?”
”Kok saya tidak pernah mendengar nama Kota Majalengka?”

Itu adalah respon beberapa mahasiswa saya ketika menyebut Majalengka sebagai kota kelahiran saya.

”Oh, Majalengkla! Ya, saya tahu!”
”Oh, Majalengka itu daerah yang berdekatan dengan kota Bandung, ya, Bu Totok?”
”Oh, Majalengka itu daerah yang terkenal dengan kue borondong, ya?”

Dan ini adalah reaksi dari beberapa rekan dosen ketika saya memperkenalkan Majalengka sebagai tempat saya dibesarkan. Saya pikir mereka benar-benar mengetahui keberadaan Majalengka, tetapi ternyata keliru; mereka menyamakan Majalengka dengan Cicalengka.

Ada beberapa tetangga saya yang mengenal Majalengka karena mereka rajin menonton televisi, tetapi nada negatiflah yang muncul.

”Oh, Majalengka itu daerah yang terkenal dengan sarang terorisnya?”
”Oh, Majalengka itu daerah yang sering terkena gempa bumi?

Atau jika ada teman-teman yang tahu dan pernah mengunjungi Majalengka, kota yang konon katanya penghasil kecap ini hanya dijadikan bahan guyonan. Secara berseloroh beberapa teman bersyukur bahwa Majalengka tidak memiliki stasiun kereta api. Bila itu terjadi niscaya lokomotif dan ekor kereta; masing-masing akan berada di luar kota pada saat kereta berhenti di stasiun Majalengka. Hehe..


Di sebuah tayangan infotainment seorang artis cukup terkenal bercerita bahwa ia akan menikah dengan seorang pengusaha yang berasal dari Cirebon. Padahal, yang ia maksud adalah seorang pengusaha genteng bermerek terkenal dari Jatiwangi dan Jatiwangi adalah bagian dari Majalengka, bukan Cirebon. Malukah artis tersebut memiliki suami yang berasal dari Majalengka hingga ia tidak menyebutkan daerah asal calon suaminya?

Trenyuh, gusar, dan kaget! Mengapa semua ini terjadi? Apakah Majalengka, kampung halaman tempat saya dibesarkan begitu kampungkah sampai-sampai jarang orang mengetahui keberadaan Kota Majalengka?
Di hari ulang tahun Majalengka ini, mari kita merenungkan keadaan Majalengka, kampung halaman yang kita cintai ini.

Kita boleh bangga bahwa pendiri PT Astra Internasional, William Surjadjaja, adalah putra Majalengka yang merupakan salah satu tokoh dan pebisnis yang sukses. Bukan saja telah mendirikan sebuah perusahaan yang dihormati baik di dalam maupun di luar negeri oleh karena profesional dan integritasnya, melainkan lebih dari itu, melalui visi dan komitmen sosialnya, ia telah membuktikan sumbangsihnya kepada bangsa Indonesia dalam mengangkat ekonomi nasional. Lelaki yang lahir di Majalengka pada 20 Desember 1923 ini mampu menciptakan lapangan kerja bagi puluhan ribu masyarakat Indonesia, tetapi apakah kita cukup bangga dengan Majalengka hanya karena William Surjadjaja lahir di Majalengka?? Apa sepakterjangnya sendiri untuk Majalengka?

Kita pun sah-sah saja bangga pada Majalengka karena sanggup melahirkan seniman seperti Ayip Rosidi atau penyanyi seperti Elvi Sukaesih, atau pelawak seperti Sule yang tergabung dalam grup lawak SOS atau sosok-sosok lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Namun, sekali lagi, apakah kita cukup puas dengan mereka yang sudah terkenal hanya karena lahir di Majalengka?? Apa sumbangsihnya sendiri bagi pembangunan dan perekonomian Majalengka?

Majalengka harus memiliki diferensiasi jika ingin maju. Jika ingin maju Majalengka harus BERUBAH. Lihatlah Gorontalo yang tak semua orang mengenal daerahnya, tetapi kini terkenal sebagai daerah pengekspor jagung terbesar di Indonesia. Atau Ubud, desa terpencil, siapa yang sangka bahwa dahulu Ubud adalah salah satu desa kecil di sebuah bukit di Bali; daerah yang tertutup dan berhutan lebat sehingga para turis pun merasa takut dan tidak berani menginjakkan kakinya di Ubud. Ubud tidak akan pernah menjadi daerah kunjungan wisata kalau tak ada seseorang yang dengan sungguh-sungguh melakukan PERUBAHAN. Sang pengubah itu adalah Tjokorda Gde Agung Sukawati, Raja Ubud.


Semasa hidupnya, GA Sukawati sangat memerhatikan kesenian. Ia berpikir, rakyatnya tidak bisa hidup seperti ini terus-menerus. Kemudian, ia pun mulai mencari jalan agar warganya bisa membuat karya-karya seni secara lebih indah dan lebih bernilai. Oleh karena itu, setiap kali ia mendengar ada pelukis hebat datang ke Bali, ia ajak ke Ubud. Ia memburu orang-orang terkenal seperti Affandi, Walter Spies, Hanz Snell, dan Antonio Blanco. Dijemputnya di pelabuhan. Bahkan diberikannya rumah. Syaratnya hanya satu: Tolong ajarkan anak-anak Ubud melukis. Antonio Blanco adalah salah satu dari beberapa pelukis terkenal yang banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan seni lukis di Ubud. Bahkan, ia sampai jatuh cinta dengan gadis Bali dan menetap hingga akhir hayatnya. Konon, sebelum kedatangan para pelukis terkenal, lukisan seniman Ubud terbatas hanya pada tema-tema yang lazim ditemui pada epos Mahabarata dan Ramayana. Sekarang mereka bisa menghasilkan karya-karya yang sangat ekspresif dengan multitema.


Gagasan sederhana itu sekarang sangat dinikmati orang-orang Bali. PERUBAHAN telah mengantarkan Ubud menjadi daerah wisata. Berkat keseniannya yang sangat istimewa, dan alam pegunungan yang dikelilingi persawahan yang indah, Ubud dikenal sebagai daerah kunjungan wisata yang sangat digemari dan bernilai ekonomis sangat tinggi. Di sepanjang jalan di Ubud, kita akan bertemu dengan selebritis dunia, guru-guru besar dari universitas terkenal di dunia, serta usahawan mancanegara. Mereka mengayuh sepeda, mengunjungi musium, memborong lukisan dan karya-karya seni.



Hari ulang tahun adalah hari yang penuh dengan harapan. Saya berharap hari ulang tahun Majalengka ini dapat dijadikan HARI PERUBAHAN.
Menjelang pemilihan kepala daerah Kabupaten Majalengka 2008 – 2013, saya berharap masyarakat dapat menentukan pilihan yang tepat pada figur calon pemimpin mendatang yang akan memimpin Kota Majalengka dengan suatu PERUBAHAN. Seorang pemimpin yang mampu melanjutkan pembangunan yang saat ini mulai berkembang. Seorang pemimpin yang mampu membangun Kota Majalengka dengan suatu PERUBAHAN sehingga menjadi kota yang memiliki diferensiasi yang signifikan. Pemimpin yang mampu membuat masyarakatnya bangga terhadap daerahnya sendiri.

Saya berharap orang yang akan memimpin kelak adalah seorang pemimpin yang mampu menciptakan PERUBAHAN. Ia tidak terpaku dan berselancar di atas pola yang dibuat oleh para pendahulunya, melainkan membuat jalan-jalan baru yang lebih baik dan lebih sesuai dengan kebutuhannya. Ia bahkan menawarkan tujuan-tujuan baru untuk dicapai bersama-sama maka lebih dari sekedar manajer, ia adalah seorang pentransfer yang memberikan inspirasi kepada para pengikutnya. Ia mengajak orang-orang melihat apa yang ia bisa lihat dan mengajak mereka semua agar bisa mencapai tujuan tersebut.

Di hari ulang tahun Majalengka ini, saya berharap agar Majalengka menjadi kota kebanggaan masyarakat Majalengka di mana pun berada, termasuk warga yang berada di luar Majalengka. Suatu saat Majalengka akan dikunjungi para investor yang akan turut membangun Kota Majalengka dengan segala potensi yang ada. Suatu saat Majalengka menjadi daerah yang banyak dikunjungi para wisatawan yang menikmati pemandangan indah Gunung Tilu, Gunung Margatapa, Gunung Ciremai, atau Gunung Kuda dan kembali ke daerahnya dengan membawa oleh-oleh kecap yang rasanya tak kalah dengan kecap produk Indofood, atau menenteng opak dan rengginang, makanan khas Majalengka, dengan berbagai aroma dan rasa seperti rasa keju, rasa ayam, atau strawberi. Atau, mengantungi buah duwet, buah khas Majalengka, yang rasanya tak kalah segar dengar buah anggur.

Bayangkan, suatu saat nanti di Majalengka berdiri universitas berstandar dunia meskipun universitas itu merupakan lisensi universitas asing. Bayangkan, hampir setiap rumah di Indonesia menggunakan atap genteng dan hiasan batu alam produk Majalengka yang kualitasnya pantas dibanggakan. Bayangkan!

Semoga saya dan warga Majalengka lainnya bisa membanggakan Kota Majalengka sebagai kota kelahirannya. Dengan bangga saya akan memberi tahu mahasiswa, teman-teman, dan tetangga saya bahwa saya bangga dengan Majalengka. Saya bangga karena Bupati Majalengka, Ibu Tuti Hayati Anwar adalah wanita Indonesia pertama yang duduk menjadi bupati di Indonesia sejak 1997. Saya bangga karena berbagai penghargaan sudah diterimanya. Saya bangga karena beliau sanggup menorehkan prestasinya dengan mengubah citra Kota Majalengka sebagai kota ”senja” menjadi kota yang ”hidup” baik di siang hari maupun di malam hari.

Saya ingin memberitahukan mahasiswa, teman-teman, dan tetangga saya bahwa saya bangga dengan Majalengka. Saya bangga karena Majalengka pernah melahirkan raja bola Indonesia, Irwan Suryondo. Melalui sebuah misi dagang di Belanda ia berhasil ambil bagian sebagai pemasok bola yang disepak-sepak oleh kaki-kaki para pemain kesebelasan dunia di kancah Piala Dunia Prancis pada 1998.


SELAMAT HARI ULANG TAHUN KOTA KELAHIRANKU, MAJALENGKA
Semoga tangan-tangan terampil yang memimpin Majalengka lebih kreatif mencari jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapinya, yang mampu melihat dengan terang kesempatan-kesempatan indah yang ada di balik setiap kesulitan karena pemimpin kreatiflah yang dibutuhkan dalam melakukan PERUBAHAN.

2 komentar:

aki_gaul mengatakan...

Nepangkeun heula, aki pituin urang Majalengka, lahir di Blok Ahad (jln. Kartini) Majalengka wetan, indung ti Baribis pun Bapa ti Banjar Patroman.
Nuju alit aki balangsak, hidup jauh dibawah garis kemiskinan. Akhir 1958 lebet ALRI ayeuna mah TNI AL dgn pangkat pang handapna pisan.Baheula ngarasa nyeri hate hirup di Majalengka, ku balangsakna di hina bae lamun bogoh ka mojang Mjalengka anu gareulis, selalu bertepuk sebelah tangan...ambon sorangan...da itu na mah boro2 bogoheun...ningali ka aki oge ngarendahkeun.Saparantos pangsiun (menta pangsiun muda), sareng pun bojo urang Cimahi kelahiran Cirebon pa heuyeuk heuyeuk ngabangun usaha radio siaran swasta ti taun 1972 dugi ka ayeuna. Hirup bisa sugema...barudak jadi sarjana sadaya...saurang jadi dokter, ayeuna keur nempuh spesialis di Undip. Anu cikal alumni UI sastra Inggris. Aki oge ngarasa bangga ayeuna mah jadi putra Majalengka teh, bahkan simbol Majalengka diabadikeun ka nami radio siaran swasta Radio Sindangkasih FM (PT. Sindangkasih)anu usiana geus nincak 40 taun...tetep ajeg...tetep kuat walau diguncang carut marutnya persaingan bisnis radio siaran yg kacau balau akibat reformasi yg kebablasan.
Menarik sekali tulisan Neng Niknik, memang itulah realitas Majalengka....kota pangsiunan julukan baheula mah...tapi para pangsiunan2 teh ternyata melahirkan orang2 yg berprestasi...termasuk Neng Ninik sendiri. Hatur nuhun...wilujeng tepang..www.qrz.com...yc1exh.

Unknown mengatakan...

Mudah2an harapan teh Niknik dan kita semua orang majalengka bisa terwujud, Semoga majalengka dapat pemimpin yang bener2 memimpin Majalengka bukan hanya memimpin golongannya saja, Semoga pemekab Majalengka dapat memfasilitasi pendidikan masyarakat Majalengka untuk lebih baik, maju dan murah supaya terjangkau oleh semua kalangan masyarakat...... amiiiien..