Minggu, 25 Juli 2010

Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia pada Kegiatan Menulis Akademik

Oleh: Niknik M. Kuntarto



Abstrak:
Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai sejarah bangsanya. Bahasa Indonesia sebagai bagian dari sejarah tercetuskannya Sumpah Pemuda adalah bukti bahwa bahasa Indonesia sanggup menjadi perekat bangsa. Selain itu, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Bahasa Indonesia juga mampu memerankan fungsinya sebagai alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Pengajaran dan pertemuan ilmiah diselenggarakan dalam bahasa Indonesia. Begitu juga, penulisan keakademikan dan keadministrasian seperti makalah, usulan penelitian, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, surat-menyurat, dan administrasi kampus sebagai sarana alat komunikasi, alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi menggunakan bahasa Indonesia. Permasalahan yang muncul adalah “Apakah bahasa Indonesia yang digunakan sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar?”

Kata Kunci: kaidah bahasa, kata baku, kalimat efektif

1. Pendahuluan
Terdapat dua fenomena yang menarik pada abad ke-21, pertama yaitu isu globalisasi yang berkaitan erat dengan era perdagangan bebas yang tidak mengenal lagi batas-batas negara dan ini berarti komunikasi memegang peranan penting dalam harmonisasi bisnis di antara mereka yang berlatar budaya berbeda. Oleh karena itu, diperlukan suatu pemahaman bersama antara dua orang atau lebih dalam melakukan komunikasi. Fenomena yang kedua adalah timbulnya keengganan masyarakat Indonesia mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulis. Di samping itu, cenderung di tengah-tengah masyarakat Indonesia bahwa dengan menggunakan bahasa asing akan lebih baik atau lebih prestise dibanding menggunakan bahasa Indonesia.
Kedua fenomena ini mempunyai kaitan yang erat dalam mengantisipasi dampak dari isu globalisasi. Di satu sisi masyarakat Indonesia harus membuka diri terhadap budaya asing termasuk bahasa. Sementara itu, di sisi lain masyarakat Indonesia juga dituntut tidak melupakan budaya dan bahasa Indonesia sebagai jatidiri bangsa Indonesia.
Budaya dan bahasa asing sebagai bahasa pembanding perlu juga dipelajari. Apalagi dalam era globalisasi banyak perusahaan asing yang melakukan kegiatan bisnis di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik dan benar terhadap budaya dan bahasa agar kesalahpahaman dalam berkomunikasin dapat terhindarkan.
Dalam keadaan seperti itu, setiap individu dan organisasi, setiap dosen dan staf/ karyawan administrasi, setiap mahasiswa di Universitas Trisakti juga tentunya dituntut untuk inovatif agar dapat meningkatkan upaya pemerintah untuk melindungi dan melestarikan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa. Hal ini menuntut masyarakat dari segala lapisan mampu melakukan upaya-upaya inovatif, artinya piawai dalam menangkap peluang mengalihkan budaya hedonisme dengan tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

2. Pembahasan
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘salah’ atau ‘kesalahan’ adalah ‘kekeliruan’, ‘kealpaan’, ‘tidak menaati kaidah’. Kemudian, Tarigan berpendapat, “Kesalahan adalah bagian konversi atau komposisi yang menyimpang dari beberapa norma baku atau norma terpilih dari performansi bahasa orang dewasa”. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa kesalahan adalah upaya sang pembelajar mengikuti kaidah-kaidah yang diyakininya atau yang diharapkannya, benar atau tepat tetapi sebenarnya salah atau tidak benar; kekeliruan; kealpaan. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesalahan berbahasa adalah suatu hal yang menyimpang dari kaidah-kaidah berbahasa yang benar, yang sesuai dengan pedoman Ejaan Yang disempurnakan (EYD).
Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa jenis tulisan seperti penulisan pada surat tugas, surat permohonan, surat keterangan, surat pengumuman, surat undangan, dan surat perjanjian yang dibuat oleh staf atau karyawan di beberapa universitas, saya menemukan beberapa kesalahan dan ketidaktepatan berbahasa, seperti penerapan ejaan yang salah, pilihan kata yang tidak baku, kalimat yang tidak efektif, paragraf yang tidak padu, dan konvensi penulisan yang tidak teratur. Ketidaktepatan ini tentu berpengaruh pada makna komunikasi yang akan dibangun.

2.1 Ketidaksantunan Ejaan
Ejaan adalah seperangkat aturan atau kaidah yang mengatur cara melambangkan bunyi, cara memisahkan atau menggabungkan kata, dan cara menggunakan tanda baca. Ejaan yang berlaku sekarang adalah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang diresmikan pada 16 Agustus 1972. Ketidaksantunan ejaan pada makalah ini yaitu a) penggunaan tanda baca, b) penulisan kata depan, dan c) penulisan kata majemuk.
Seorang mahasiswa pernah bertanya kepada saya, “Mengapa penulisan penyingkatan ‘Rupiah’ harus dipermasalahkan? Bukankah penyingkatan dengan tanda titik (Rp.) atau tanpa tanda titik (Rp) tidak akan membedakan pengertian?” Ketika itu, saya menjawab, “Penulisan Rp dan Rp. diibaratkan seperti dua orang mahasiswa (A dan B) memakai sepatu. Mahasiswa A memakai sepasang sepatu (kiri dan kanan), sedangkan mahasiswa B memakai sepatu, tetapi bagian kanan semua. Penulisan Rp (tanpa menggunakan tanda titik) diibaratkan mahasiswa yang memakai sepasang sepatu (bagian kiri dan kanan), sedangkan penulisan Rp. (menggunakan tanda titik) diibaratkan mahasiswa yang memakai sepatu bagian kanan semua. Pilihlah, Anda mau menjadi mahasiswa A atau B?
Untuk menjawab permasalahan ini sebetulnya kembali pada diri kita sendiri, apakah kita mau menerapkan kaidah bahasa Indonesia atau tidak. Sama halnya ketika kita di jalan raya, apakah kita akan menaati rambu-rambu lalu lintas atau tidak, semuanya berpulang pada diri kita sendiri.
Menurut kaidah yang tercantum dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), selain tidak digunakan di belakang judul, timbangan, dan ukuran, tanda titik tidak digunakan di belakang singkatan mata uang. Dengan demikian, penulisan singkatan Rupiah yang benar adalah Rp (tanpa menggunakan tanda titik). Perhatikan contoh penulisan Rp yang salah pada naskah tata tertib perpustakaan berikut ini.


Untuk keterlambatan pengembalian buku tandon/short loan, dan koleksi referensi, dikenakan denda sebesar Rp.500/buku untuk 1 jam

Bagaimanakah penulisan bagian surat tersebut? Ya, tentu salah. Inilah contoh penulisan yang benar.
Untuk keterlambatan pengembalian buku tandon/short loan, dan koleksi referensi, dikenakan denda sebesar Rp500/ buku untuk 1 jam

Selain tidak digunakan di belakang singkatan mata uang, tanda titik juga tidak digunakan di belakang singkatan nama lembaga yang semuanya menggunakan huruf kapital, seperti MPR, DPR, PT, CV, dan UMN. Pada buku panduan beberapa universitas terdapat ketidaktepatan ini.
Kunjungan ke PT. Indosat Divisi PR, dalam rangka Link and Match dengan dunia industri

Olii, Helena. 2007. Opini Publik. PT. Indeks
Abidin P, Zainal. 2006. Teknik Lobi dan Negosiasi. PT. Indeks
Pareno, Sam Abede, 2003, Manajemen Berita. PT. Papyrus.
Mufid, Muhamad, 2007. Komunikasi dan Regulasi Penyiaran. PT. Prenada Media.
Sumadiria, Hans AS. 2004. Menulis Artikel dan Tajuk Rencana. PT. Remaja Rosdakarya. Offset – Bandung.
Rampan, Korrie Layun.2000. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Jakarta : PT.
Grasindo.
Heryanto, Ariel. 1985. Perdebatan Sastra dan Kontekstual.Jakarta: CV. Rajawali.
Ardial, 2009. Komunikasi Politik. PT. Indeks.
Ardiansyah,Yulian.2005.Tips dan Trik Fotografi. PT. Grasindo. Jakarta 2005


Dengan demikian, sesuai kaidah bahasa Indonesia yang benar, penulisan PT dan CV yang diakhiri tanda titik adalah salah. Jadi, tulislah PT Indosat, PT Indeks, PT Papyrus, PT Prenada Media, PT Remaja Rosdakarya, PT Grasindo, dan CV Rajawali tanpa menggunakan tanda titik di belakang singkatan PT atau CV.

Sementara itu, tanda titik hanya digunakan di belakang singkatan nama diri, gelar, ungkapan umum yang menggunakan huruf kecil, dan angka yang menyatakan jumlah. Penulisan nama dan gelar yang benar adalah
No. Penulisan Bentuk Salah Penulisan Bentuk Benar
1. DR. Romeo Andromeda, MA Dr. Romeo Andromeda, M.A.
2. DR. PM Kanigoro Dr. P.M. Kanigoro
3. Renata K Prima, S.Pd., M.Hum. Renata K Prima, S.Pd., M.Hum.

Selain tanda baca titik, ketidaksantunan juga terdapat pada penggunaan tanda koma, seperti contoh berikut ini.
Kami percaya bahwa Tuhan mengaruniakan akal budi kepada umat manusia untuk mencari kebenaran, kebaikan dan keindahan oleh sebab itu kami akan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, etika dan estetika.

Mahasiswa mampu mempraktikkan pembuatan berita untuk TV mulai dari mencari, mengumpulkan dan mengolah data hingga menyusun berita

Program Studi adalah kesatuan rencana belajar sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan akademik dan/atau profesional yang diselenggarakan atas dasar suatu kurikulum serta ditujukan agar mahasiswa dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan sasaran kurikulum.

Menurut kaidah EYD, tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan dan jika princian lebih dari dua sebelum kata hubung dan dibubuhi tanda koma. Kemudian, tanda koma juga dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kali¬mat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi dan lain-lain. Namun, tanda koma tidak dipakai sebelum penulisan kata penghubung intra kalimat, kecuali tetapi, sedangkan, dan melainkan.
Dengan demikian, penulisan penggunaan tanda koma yang benar, yaitu
Kami percaya bahwa Tuhan mengaruniakan akal budi kepada umat manusia untuk mencari kebenaran, kebaikan dan keindahan. Oleh sebab itu, kami akan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, etika, dan estetika.

Mahasiswa mampu mempraktikkan pembuatan berita untuk TV mulai dari mencari, mengumpulkan, dan mengolah data hingga menyusun berita

Program Studi adalah kesatuan rencana belajar sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan akademik dan/atau profesional yang diselenggarakan atas dasar suatu kurikulum serta ditujukan agar mahasiswa dapat menguasai pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang sesuai dengan sasaran kurikulum.


Kemudian, ketidaksantunan ejaan terletak pada penyingkatan yang menggunakan huruf kecil dan lazim digunakan seperti sampai dengan, atas nama, dengan alamat, dan lain-lain. Menurut EYD singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya:
dll. dan lain-lain
dsb. dan sebagainya
dst. dan seterusnya
him. halaman
sda. sama dengan atas
Yth. Yang terhormat

Namun, jika singkatan umum tersebut terdiri atas dua huruf diikuti tanda titik si setiap akhir singkatan:
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian
Dengan demikian, penulisan seperti berikut ini salah.
Perpustakaan dibuka setiap hari kerja dengan ketentuan sebagai berikut :
- Senin s/d Kamis : Pukul 09.00 - 12.00
Pemakai yang mengalami kesulitan atau masalah dalam penggunaan fasilitas laboratorium komputer dapat melaporkan dan meminta bantuan IT Universitas Andromeda melalui layanan Hotline di kampus UA
E-mail : hotline@andromeda.ac.id
Jam Kerja : Senin s/d Jumat pukul 08.00 – 17.00


Penulisan yang benar adalah

Perpustakaan dibuka setiap hari kerja dengan ketentuan sebagai berikut :
- Senin s.d. Kamis : Pukul 09.00 - 12.00
Pemakai yang mengalami kesulitan atau masalah dalam penggunaan fasilitas laboratorium komputer dapat melaporkan dan meminta bantuan IT Universitas Andromeda melalui layanan Hotline di kampus UA
E-mail : hotline@andromeda.ac.id
Jam Kerja : Senin s.d. Jumat pukul 08.00 – 17.00

Sering kali kita melihat penulisan yaitu, adalah, yakni, ialah yang diikuti tanda baca titik dua. Padahal, menurut EYD hal tersebut merupakan kemubaziran. Tanda baca titik dua (:) berarti yaitu, adalah, yakni, dan ialah. Dengan demikian, penulisan seperti ini salah.
1. Peraturan Peminjaman
a. Prosedur peminjaman buku di Perpustakaan Universitas Andromeda, yaitu:
- Mengisi formulir peminjaman.
- Memperlihatkan kartu anggota perpustakaan milik sendiri.
- Buku yang dipinjam sepenuhnya menjadi tanggung jawab peminjam.


Penulisan yang benar seperti contoh berikut.
2. Peraturan Peminjaman
a. Prosedur peminjaman buku di Perpustakaan Universitas Andromeda, yaitu

1) mengisi formulir peminjaman,
2) memperlihatkan memperlihatkan kartu anggota perpustakaan
milik sendiri, dan
3) buku yang dipinjam sepenuhnya menjadi tanggung jawab
peminjam.

Atau

3. Peraturan Peminjaman
b. Prosedur peminjaman buku di Perpustakaan Universitas Andromeda:
1) mengisi formulir peminjaman;
2) memperlihatkan kartu anggota perpustakaan milik sendiri;
3) buku yang dipinjam sepenuhnya menjadi tanggung jawab peminjam.

4. Peraturan Peminjaman
c. Prosedur peminjaman buku di Perpustakaan Universitas Andromeda, yaitu sebagai berikut.
1) Mengisi formulir peminjaman.
2) Memperlihatkan kartu anggota perpustakaan milik sendiri.
3) Buku yang dipinjam sepenuhnya menjadi tanggung jawab peminjam.


Selanjutnya, ketidaksantunan ejaan terletak pada penulisan kata depan di dan awalan di-. Saya pernah mengatakan kepada mahasiswa bahwa ketidaksantunan ini merupakan ‘penyakit’ karena terlalu sering dilakukan oleh mahasiswa dan setelah diberi tahu tentang kesalahan tersebut, mahasiswa selalu mengulangi. Menurut EYD, penulisan kata depan di dan awalan di- dibedakan. Cara penulisan kata depan di dipisah dari kata tempat atau benda yang mengikuti, sedangkan penulisan awalan di- digabung dengan kata kerja atau sifat yang mengikuti. Dengan demikian, kesalahan pada kata kata diatas, dibawah, dan di serahkan dapat dikoreksi menjadi di atas, di bawah, dan diserahkan. Jika Anda tetap menulis di serahkan berarti serahkan adalah nama tempat. Baiklah, sekarang saya bertanya, di manakah daerah Serahkan itu? Perhatikan contoh kalimat dalam surat berikut ini.


No. Bentuk Salah Bentuk Benar
a. Bidang Jurnalistik multi media mempelajari tentang peliputan, penulisan, reportase baik dibidang cetak maupun elektronik yang berbasis ICT dan penguasaan audio visual serta beretika
Bidang Jurnalistik multimedia mempelajari tentang peliputan, penulisan, reportase baik di bidang cetak maupun elektronik yang berbasis ICT dan penguasaan audio visual serta beretika

b. Mampu melakukan riset ilmiah da melanjutkan kejenjang pendidikan yg lebih tinggi.
Mampu melakukan riset ilmiah dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

c. Kami mohon berkas tersebut di serahkan ke Bagian Administrasi Dosen.... Kami mohon berkas tersebut diserahkan ke Bagian Administrasi Dosen....
d. Dimohon kepada Bapak/Ibu untuk mempersiapkan Soal Ujian Akhir Semester untuk didiskusikan dengan Ketua Program Studi masing – masing. Soal – soal tersebut diserahkan ke BAAK paling lambat pada 10 Juni 2009 dalam bentuk hard copy dan sudah di setujui oleh Ketua Program Studi masing – masing .
Dimohon kepada Bapak/Ibu untuk mempersiapkan Soal Ujian Akhir Semester untuk didiskusikan dengan Ketua Program Studi masing – masing. Soal – soal tersebut diserahkan ke BAAK paling lambat pada 10 Juni 2009 dalam bentuk hard copy dan sudah disetujui oleh Ketua Program Studi masing – masing .
e. Jika dikemudian hari ditemukan perlunya ada perubahan kebijaksanaan penanggulangan dan pencegahan narkoba ini, akan dibuatkan Addendum, sebagai bagian dari Surat Keputusan ini
Jika di kemudian hari ditemukan perlunya ada perubahan kebijaksanaan penanggulangan dan pencegahan narkoba ini, akan dibuatkan Addendum, sebagai bagian dari Surat Keputusan ini

f. Kami meminta ijin kepada pihak Manajemen Plaza Gading Serpong untuk memperbolehkan mahasiswa kami untuk mempergunakan fasilitas yang ada disekitar area Plaza gading Serpong. Kami meminta izin kepada pihak Manajemen Plaza Gading Serpong untuk memperbolehkan mahasiswa kami untuk mempergunakan fasilitas yang ada di sekitar area Plaza Gading Serpong.

Selain ketidaksantunan pada penulisan kata depan di dan penggunaan tanda baca, ketidaksantunan juga terletak pada penulisan kata majemuk atau gabungan. Berikut contoh ketidaksantunan tersebut.
Demikian pemberitahuan kami, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.
Termakasih kami ucakan atas perhatian Ibu/ Bapak.
Dalam rangka memperoleh hasil yang optimal, dalam berbagai upaya penanggulangan dan pencegahan narkoba, Universitas Andromeda akan bekerjasama dengan berbagai pihak yang berkompeten sebagai berikut:


Padahal, menurut EYD Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk
istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Misalnya:
Duta besar, kambing hitam, kereta api cepat tuar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linear, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat, kerja sama, dan terima kasih.

Dengan demikian, penulisan yang benar seperti berikut ini.
Demikian pemberitahuan kami, atas perhatian dan kerja sama Ibu dan Bapak, kami ucapkan terima kasih.
Terma kasih kami ucakan atas perhatian Ibu/ Bapak.



Lain halnya, jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,
gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta, audiogram, awahama, bikarbonat, biokimia, catur-tunggal, dasawarsa, dekameter, demoralisasi, dwiwarna, ekawarna, ekstrakurikuler, elektroteknik, infra-struktur, inkonvensional, introspeksi, kolonialisme, kosponsor, mahasiswa, mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolaborasi, Pancasila, panitisme, paripurna, poligami, pramuniaga, prasangka, purnawirawan, reinkarnasi, saptakrida, semiprofesional, subseksi, swadaya, telepon, transmigrasi, tritunggal, ultramodern.

Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
non-lndonesia, pan-Afrikanisme
Perhatikan contoh ketidaksantunan pada bentuk bahasa berikut ini.
Bagaimanakah seharusnya?

a. Jurnalistik Multi Media
b. komunikasi verbal dan non verbal,
c. proses penulisan karya tulis fiksi dan non fiksi
d. konsep-konsep komunikasi antar budaya
e. ....hingga pasca produksi dengan multi media

2.2 Ketidaksantunan Diksi
Diksi adalah pilihan kata dalam mengungkapkan apa yang ingin disampaikan. Terdapat ketidaksantunan diksi dalam penulisan surat-menyurat pada administrasi kampus di beberapa universitas yang berhubungan dengan pilihan kata baku dan tidak baku. Berikut contohnya.

a. Tentu hal itu mengandung resiko yang tinggi...
b. Sidang praktek kerja/magang dilaksanakan sesuai jadwal yang ditetapkan program studi.
a. faktor yang mempengaruhi citra perusahaan
c. Seluruh mahasiswa Universitas Andromeda wajib mentaati larangan-larangan sebagai berikut:
d. Tidak diijinkan mengikuti suatu kegiatan ....
e. Topik karya tulis: Pengangguran Disinyalir Terus Meningkat
f. Rapat dosen akan diadakan pada jam 16.00 sampai dengan selesai.
g. ....metode dan program manajemen krisis untuk masing-masing organisasi,
h. Mahasiswa mampu mendeskripsikan konsep-konsep dasar sosiologi dan mampu mengkaitkannya dengan ilmu komunikasi..

Berdasarkan contoh di atas dapat diklasifikasikan penggunaan kata tidak baku, yaitu

Kata Tidak Baku Kata Baku
resiko risiko
ijin izin
praktek praktik
jam pukul
masing-masing organisasi tiap-tiap / setiap organisasi
mentaati menaati
mengkaitkan mengaitkan
mengkomunikasikan mengomunikasikan

Menurut kaidah bahasa Indonesia, pemilihan kata praktek yang diserap dari bahasa Belanda practical, practisch adalah salah, seharusnya praktik. Selain kata praktik, kata risiko juga diserap dari bahasa Inggris risk. Setelah disadur ke dalam bahasa Indonesia menjadi risiko. Kata izin juga diserap dari bahasa asing, yakni Arab. Setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia kata tersebut menjadi izin, bukan ijin. Penyerapan unsur asing ke dalam bahasa Indonesia sudah diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 146/U/2004 tentang Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Kata jam dan pukul masing-masing mempunyai makna sendiri, yang berbeda satu sama lain. Kata jam menunjukkan makna ”Masa atau jangka waktu”, sedangkan kata pukul mengandung pengertian ”saat atau waktu”. Dengan demikian, yang benar adalah pukul 10.00, bukan jam 10.00.
Kata tiap-tiap dan masing-masing mempunyai arti yang sangat mirip karena keduanya termasuk kata bilangan distributif. Namun, sebenarnya kedua kata tersebut berbeda. Kata tiap-tiap selalu diiringi atau diikuti kata benda, sedangkan kata masing-masing penggunaannya selalu didahului kata benda atau berdiri sendiri dan dapat juga digunakan pada akhir kalimat.
Selanjutnya, ketidaktepatan diksi terdapat pada pemilihan kata-kata yang mengalami peluluhan atau tidak, seperti kata mentaati, mengkaitkan, dan mengkomunikasikan . Kadang-kadang kita ragu dengan pilihan kata seperti berikut ini, mensukseskan atau menyukseskan, mempengaruhi atau memengaruhi, mentargetkan atau menargetkan, dan mengkoordinasi atau mengoordinasi. Sebenarnya, jika sudah memahami kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, kita tidak akan mengalami keraguan. Peluluhan hanya terjadi ketika awalan me- menghadapi kata-kata yang berhuruf awal s, p, t, dan k. Dengan demikian, bentuk bahasa yang benar yaitu menyukseskan, memengaruhi, menargetkan, mengoordinasi, menaati, mengaitkan, dan mengomunikasikan.

2.3 Ketidaksantunan Kalimat
Ketidaksantunan yang lain terletak juga pada pemilihan kata yang boros dan idiomatik yang salah sehingga kalimat menjadi tidak efektif. Perhatikan contoh berikut ini.
a. Sehubungan dengan Hari Raya Natal Tahun2007 dan Tahun Baru 2008, melalui surat ini kami informasikan bahwa perkuliahan di Universitas Andromeda akan diliburkan mulai tanggal 21 Desember 2007 sampai dengan tanggal 1 Januari 2008, dan masuk kembali pada tanggal 2 Januari 2008.
b. Di bawah ini adalah merupakan langkah untuk masuk ke print menu adalah...
c. Secara periodik (berkala) tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, terhadap semua mahasiswa/i. Test Urin berkala ini disertai dengan penggeledahan terhadap semua barang yang dibawa mahasiswa/i
d. Agar setiap sivitas akademika dapat berpartisipasi penuh dalam pelaksanaan pendidikan, maka setiap anggota dari sivitas akademika perlu mengetahui hak-hak dan kewajiban-kewajibannya.


Berdasarkan contoh-contoh tersebut dapat disimpulkan terdapat ketidaksantunan dalam kalimat seperti penggunaan kata boros, kata penghubung yang boros, dan idiomatik yang salah.

Kata Boros Kata Hemat

Pada tahun 1901 Pada 1901
Pada hari Senin pada Senin
Mahasiswa/i mahasiswa
adalah merupakan adalah
merupakam
berdasarkan..., maka kami berdasarkan...., kami
agar...., maka setiap agar...., setiap

Semua orang mengetahui bahwa 2009 adalah nama tahun dan Senin adalah nama hari. Jadi, penggunaan tahun dan hari tidak diperlukan. Kemudian, adalah dan merupakan mempunyai arti yang sama sehingga hanya satu yang kita gunakan, adalah atau merupakan. Lalu, penggunaan kata penghubung yang bermakna sama seperti apabila dan maka, berdasarkan dan maka tidak usah digunakan kedua-duanya.
Berdasarkan penjelasan tersebut, kalimat a, b, c, dan d dapat diperbaiki seperti berikut ini.
a. Sehubungan dengan hari Natal 2007 dan Tahun Baru 2009, melalui surat ini kami informasikan bahwa perkuliahan di Universitas Andromeda akan diliburkan mulai 21 Desember 2008 sampai dengan 1 Januari 2009, dan masuk kembali pada 2 Januari 2008.
b. Di bawah ini adalah langkah untuk masuk ke print menu adalah...
c. Secara periodik (berkala) tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, terhadap semua mahasiswa. Test Urin berkala ini disertai dengan penggeledahan terhadap semua barang yang dibawa mahasiswa.
d. Agar dapat berpartisipasi penuh dalam pelaksanaan pendidikan, setiap anggota dari sivitas akademika perlu mengetahui hak-hak dan kewajiban-kewajibannya.

2.4 Ketidaksantunan Paragraf
Kalimat-kalimat yang terangkai akan membentuk paragraf. Paragraf yang baik harus memenuhi persyaratan kepaduan. Persyaratan kepaduan ini dapat tercapai jika menerapkan penggunaan kata penghubung yang tepat, baik kata penghubung intrakalimat maupun kata penghubung antarkalimat. Kata sedangkan dan dan bukan merupakan kata penghubung antarkalimat, melainkan kata penghubung intrakalimat. Sebaliknya, kata oleh sebab itu bukan kata penghubung intrakalimat, melainkan kata penghubung antarkalimat yang berfungsi menghubungkan antara kalimat yang satu dengan yang lain. Perhatikan contoh ketidaksantuanan berikut ini.
a. Untuk seluruh sivitas akademika, pinjaman berlaku selama 7 (tujuh) hari. Sedangkan buku untuk pegangan dosen berlaku selama satu semester.
b. Dengan kemampuannya, para wirausaha itu menciptakan kegiatan-kegiatan usaha yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dan pada akhirnya kegiatan usaha tersebut dapat menyerap tenaga kerja.
c. ... menyatukan keberagaman komunitas yang saling terhubung dengan komunikasi yang baik, sehingga membentuk sebuah komunitas dunia yang harmonis
d. Kami percaya bahwa Tuhan mengaruniakan akal budi kepada umat manusia untuk mencari kebenaran, kebaikan dan keindahan oleh sebab itu, kami akan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, etika dan estetika.

Kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut tidak efektif dengan adanya ketidaktepatan penggunaan kata penghubung. Terdapat dua kata penghubung, yakni kata penghubung intrakalimat dan kata penghubung antarkalimat. Kata penghubung intrakalimat berfungsi menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat, atau sebaliknya. Contoh kata penghubung intrakalimat yaitu sehingga, karena, bahwa, walaupun, tetapi, sedangkan, dan lain-lain. Sementara itu, kata penghubung antarkalimat berfungsi menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya. Contohnya Oleh karena itu,.... Selanjutnya,.... Kemudian,.... Namun,.... Akhirnya,.... dan lain-lain.
Dengan demikian, kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut dapat diperbaiki seperti berikut ini.
a. Untuk seluruh sivitas akademika, pinjaman berlaku selama 7 (tujuh) hari, sedangkan buku untuk pegangan dosen berlaku selama satu semester.
b. Dengan kemampuannya, para wirausaha itu menciptakan kegiatan-kegiatan usaha yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan pada akhirnya kegiatan usaha tersebut dapat menyerap tenaga kerja.
c. ... menyatukan keberagaman komunitas yang saling terhubung dengan komunikasi yang baik sehingga membentuk sebuah komunitas dunia yang harmonis
d. Kami percaya bahwa Tuhan mengaruniakan akal budi kepada umat manusia untuk mencari kebenaran, kebaikan dan keindahan. Oleh sebab itu, kami akan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, etika dan estetika.

2.5 Ketidaksantunan Konvensi Penulisan Penomoran
Konvensi penulisan adalah kaidah yang mengatur penampilan tulisan agar teratur. Keteraturan yang tampak pada penulisan apa pun adalah sistematika penomoran. Ketidakteratutan sistematika penomoran akan berakibat ketidaktepatan penangkapan pesan yang akan dikomunikasikan. Ada dua cara mengatur sistematika penomoran yaitu dengan menggunakan sistem gabungan angka dan huruf dan sistem angka digital seperti berikut ini.
I. A. 1. a. 1) a) (1) (a) ((1)) ((a)) ***
I.
1.1
1.2
1.3
1.3.1
1.3.2
dst

Mari kita perhatikan sistematika penomoran setelah (a.) Rinciannya menggunakan tanda hubung (-). Padahal, seperti penjelasan sebelumnya bahwa sudah ada kaidah yang mengatur sistematika penomoran. Setelah menggunakan huruf a(kecil), perincian berikutnya menggunakan 1), 2), dan 3). Dengan demikian, penulisan seperti ini salah.

1. Peraturan Peminjaman
a.Prosedur peminjaman buku di Perpustakaan Universitas Andromeda, yaitu:
- Mengisi formulir peminjaman.
- Memperlihatkan kartu anggota perpustakaan milik sendiri.
- Buku yang dipinjam sepenuhnya menjadi tanggung jawab peminjam.


Penulisan yang benar seperti contoh berikut.
2. Peraturan Peminjaman
a. Prosedur peminjaman buku di Perpustakaan Universitas Andromeda, yaitu
1) mengisi formulir peminjaman,
2) memperlihatkan memperlihatkan kartu anggota perpustakaan
milik sendiri, dan
3) buku yang dipinjam sepenuhnya menjadi tanggung jawab
peminjam.

Atau

III. Peraturan Peminjaman
A. Prosedur peminjaman buku di Perpustakaan Universitas Andromeda:
1.mengisi formulir peminjaman;
2.memperlihatkan kartu anggota perpustakaan milik sendiri;
3.buku yang dipinjam sepenuhnya menjadi tanggung jawab
peminjam.

3. Peraturan Peminjaman
a. Prosedur peminjaman buku di Perpustakaan Universitas Andromeda, yaitu sebagai berikut.
1) Mengisi formulir peminjaman.
2) Memperlihatkan kartu anggota perpustakaan milik sendiri.
3) Buku yang dipinjam sepenuhnya menjadi tanggung jawab peminjam.


Perhatikan penggunaan tanda baca setelah kata yaitu dan yaitu sebagai berikut. Seringkali mahasiswa menggunakan tanda baca titik dua setelah kata yaitu dan yaitu sebagai berikut. Padahal, penggunaan tanda titik dua setelah kata yaitu dan yaitu sebagai berikut mubazir karena memiliki arti yang sama. Tanda titik dua mempunyai arti yaitu, adalah, yakni, dan ialah. Jadi, penggunaan tanda titik dua dan yaitu merupakan suatu pilihan.
Selanjutnya, perhatikan penggunaan huruf kapital di awal kalimat perincian. Gunakan huruf kapital jika kalimat sebelum perincian menggunakan yaitu sebagai berikut.(diakhiri tanda titik) dan gunakan huruf kecil jika diakhiri kata yaitu (tanpa diakhiri tanda titik dua) atau …berikut: (diakhiri tanda titik dua).




3.Penutup

Bahasa Indonesia baik jika dipelajari. Namun, apa yang sudah kita bahas bersama ini akan lebih bermakna bila dipraktikkan ketika kita berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran dan pertemuan ilmiah diselenggarakan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Begitu juga, penulisan keakademikan dan keadministrasian seperti makalah, usulan penelitian, laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi, surat-menyurat, dan administrasi kampus sebagai sarana mengomunikasikan pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kewibawaan akan terpancar pada orang yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Semoga kita selalu dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, berbangga memiliki bahasa Indonesia! Mari kita gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai wujud kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesia. Marilah menjadi masyarakat yang berkepribadian Indonesia, yang bertanggung jawab sebagai warga negara Indonesia, yang mencintai tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia.



DAFTAR PUSTAKA

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indnesia yang Disempurnakan”. Jakarta : Balai Pustaka.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.

----------------------------. 1986. Pengajaran Ejaan Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.

1 komentar:

Eko Probo D Warpani mengatakan...

artikelnya bagus bu, bisa jadi acuan saya dalam menulis dan membimbing skripsi siswa. Ibu pengajar di STMT Trisakti? sama dong ... hehehe

Masalah penggunaan Bahasa Indonesia ini penting dalam penulisan ilmiah, namun sayang sering diabaikan siswa bahkan pengajar.

Blog ibu sangat berguna bagi saya, terima kasih atas tulisan ibu

Salam
Eko Probo D Warpani
http://ekoprobo.wordpress.com/