Senin, 22 Maret 2010

Prakata Saatirah, Bukan Perempuan Biasa oleh Niknik M. Kuntarto





Prakata
Betapa tak terhingga nikmat yang telah Tuhan berikan kepadaku, sejak kita membuka mata di pagi hari dan memejamkan mata di malam hari. Seandainya saja jika air laut dijadikan tinta dan ranting-ranting yang ada di seluruh bumi ini dijadikan pena, niscaya tidak akan dapat menuliskan nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih dan sujud syukur pada Tuhan Yang Mahadaya Cinta atas nikmat terselesaikannya kisah ini yang terabadikan dalam novel perdanaku Saatirah: Bukan Perempuan Biasa.
Di setiap harapan dan perjalanan kita menuju tercapainya suatu tujuan, pasti selalu disertai dengan kerja keras sampai akhirnya kita dapat mencapai tujuan yang kita inginkan dan kita mimpikan. Terima kasih kepada Mas R. Masri Sareb Putra dan Mas Ambang Priyonggo yang telah menularkan virus motivasi menulis, kepada Kangmas Edi Sutarto, yang telah memberikan rasa percaya diri dan dukungan yang besar pada saya hingga yakin dapat menuntaskan kisah ini, kepada Mas M.S. Gumelar yang telah memberi nuansa eksotis pada cover novel ini, kepada Sime dan Devita, sang photographer, kepada teman-teman dosen: Mas Ibn, Mas Erman Bala, Bang Olo Tahe Sinaga, Bu Joice, Bu Ratna, Bu Rosita, dan sahabat-sahabat lainnya di Universitas Multimedia Nusantara yang tak dapat saya tuliskan semuanya di sini.
Terima kasih juga saya sampaikan pada Ibu Jajang C. Noor, Ibu Helvy Tiana Rosa, Ibu Riris R. Sarumpaet, Ibu Melani Budianta, Ibu Okke K.S. Zaimar, Ibu Apsanti Djokosujatno, Bapak Taufiq Ismail, Bapak Sapardi Djoko Damono, Bapak Budi Darma, Bapak N. Riantiarno, Bapak Ahmadun Yosi Herfanda, Bapak Suminto A. Sayuti, Mas Agus R Sarjono, Mas Jamal D. Rahman, Mbak Mira, dan Mas Bimo di Grasindo yang telah memberikan apresiasi positif sehingga kisah ini menjadi lebih bermakna.
Mama, Bapak, saudara-saudaraku di Majalengka dan Surabaya, terima kasih, atas kasih sayang yang berlimpah sehingga Nde selalu bersemangat untuk berkarya. Kuucapkan terima kasih juga pada Sie, sahabat kecilku. Terakhir, kupersembahkan karya ini untuk suamiku tercinta, Mas Totok Widya Kuntarto, motivator terbesarku untuk selalu menjadi wanita yang mandiri dan berguna.
Semoga kisah Saatirah: Bukan Perempuan Biasa dapat memberi seberkas sinar pada buah hatiku Ruby, Rere, dan Romeo, pada para mahasiswa yang akan memasuki mahligai pernikahan, dan pada sahabat-sahabat sejati, dan pada wanita-wanita tegar di seluruh dunia. Amin.




Jakarta, 10 Mei 2010
Penulis

0 komentar: